Dan bila ditanya tentang cebisan cebisan itu.
Sekali lagi aku diamkan.
Dan aku bodohkan.
Aku jejak cebisan itu.
Aku hancur sampai mampus.
Dan dia terbuang sambil hancur.
Dan ia kembali semula.
Aku melakukan repitasi.
Repitasi menghancurkan cebisan itu.
Repitasi aku terhormat bersama konsistensi.
Konsistensi aku dirancang penuh kombinasi.
Kombinasi perit dan cebisan yang hancur.
Itu yang aku rapati untuk hancurkan.
Hancurkan kombinasi yang sedia ada.
Agar ada penggabungan zarah memori yang baru.
Perlahan lahan ia hancur.
Dan perlahan-lahan ia saling mendekati.
Daripada zarah, menjadi susuk figura yang sempurna.
Lalu repitasi berulang dan terus berulang.
Sampai aku mati.
Aku tak mampu.
No comments:
Post a Comment